JALUR KA KALISAT - PANARUKAN : MERANA DIAMBANG REAKTIVASI

JALUR KA KALISAT - PANARUKAN : MERANA DIAMBANG REAKTIVASI
"Kereta Api Lintas Jember - Kalisat - Panarukan yang pernah melintas di Jalur KA Kalisat - Panarukan pada tahun 2004. (Sumber : IKAPTK Situbondo)"

"Panarukan adalah sebuah Kecamatan yang terletak di sebelah Barat Kabupaten Situbondo ini merupakan tempat yang sangat legendaris pada masa Kolonial Belanda. Pasalnya di tempat ini merupakan tempat paling ujung ruas Jalan Raya Pos atau yang disebut Jalan Daendels yang membentang sepanjang 1000 KM dari Anyer sampai Panarukan. Jalan ini dibangun oleh Gubernur Hindia Belanda, Herman Willem Daendels pada kisaran tahun 1808-1811. Selain daerah yang terkenal akan ujung ruas Jalan Raya Pos tersebut, Panarukan juga mempunyai kisah yang terkait tentang Perkeretaapian di daerah ini yang tak kalah legendarisnya. Di Blog kali ini, penulis akan menceritakan kisah sejarah tentang Jalur Kereta Api yang membentang dari Stasiun Kalisat, Jember sampai Stasiun Panarukan, Situbondo yang melewati beberapa wilayah seperti Kabupaten Bondowoso di DAOP 9 Jember. Jalur ini nasibnya merana karena berada diambang proses reaktivasi yang tak kunjung diverifikasi oleh Pemerintah. Bagaimana kisah lengkapnya?. Yuk langsung aja simak ulasan berikut!."

Sejarah Jalur KA Kalisat - Panarukan
"Potret Suasana di Stasiun Panarukan pada dekade 1970an disaat menyambut upacara peningkatan angkutan KA Lintas Kalisat - Panarukan. (Sumber : Perpustakaan Nasional)"

"Sejarah dari dibangunnya Jalur KA Kalisat - Panarukan adalah dari gagasan Staatsspoorwegen (SS) pada akhir abad ke-19 untuk merencanakan menyatukan seluruh penjuru Pulau Jawa dengan Ular Besi. Prestasi yang didapat oleh SS adalah dimana mereka berhasil menyambungkan pusat kota besar di Pulau Jawa dengan kereta api. Contohnya seperti Batavia (Jakarta, Buitenzorg (Bogor), Bandung, Cirebon, Jogja, Vorstenlanden (Solo), Malang, Semarang, sampai Surabaya di tahun 1890. Pada tahun 1893, SS berencana untuk memperpanjang Jalur Kereta Api di Surabaya sampai ke ujung timur Pulau Jawa yakni Banyuwangi. Sebelum merencanakan memperpanjang ke Banyuwangi, terlebih dahulu SS melirik satu wilayah di utara daerah tapal kuda yakni Panarukan yang terlebih dahulu terhubung dengan Jalan Raya Pos. Atas inisiatif tersebut, SS mulai membangun Jalur KA Surabaya - Pasuruan - Probolinggo di tahun 1893. Kemudian dilanjut dari Probolinggo - Klakah di tahun 1894 sampai akhirnya Jalur tersebut berada di Jember yang rampung pada 1 Juli 1897. Jalur Jember - Banyuwangi pada akhirnya selesai tahun 1903. Di blog ini, penulis tidak menyoroti lebih dalam Jalur KA Jember - Banyuwangi, mungkin akan dibahas di segmen berikutnya. Terlebih dahulu kita bahas segmen Kalisat - Panarukan. Oke balik lagi ke cerita, setelah pembangunan Jalur tersebut sampai di daerah Kalisat, SS berencana untuk membangun Jalur Kereta Api menuju ke arah Panarukan melalui Bondowoso dan Situbondo. Jalur tersebut pada akhirnya rampung di tanggal 1 Oktober 1897. Jalur Kereta Api Kalisat - Panarukan membentang sepanjang 70 KM yang melintasi 9 Stasiun dan 8 Halte. Diantaranya adalah Stasiun Kalisat, Sukowono, Grujugan, Bondowoso, Bonosare, Prajekan, Situbondo, dan Panarukan yang arsitekturnya mengusung gaya neo-klasik dan Indische Empire. Jalur KA Kalisat-Panarukan juga terdapat cabang yang menuju ke PG Panji dan Pelabuhan Panarukan yang terlebih dahulu nonaktif dibandingkan jalur ini."

Peristiwa Gerbong Maut
"Stasiun Bondowoso, saksi bisu peristiwa bersejarah Gerbong Maut pada era Agresi Militer Belanda tahun 1947. (Sumber : Wikipedia)"

"Jalur KA Kalisat - Panarukan pernah mencatatkan sebuah Peristiwa Bersejarah pada pasca kemerdekaan yakni Peristiwa Tragedi Gerbong Maut. Pada masa Agresi Militer Belanda I tahun 1947, belasan anggota pejuang kemerdekaan yang mereka semua ditahan di Penjara Bondowoso berencana untuk dipindahkan ke Penjara Wonokromo di Surabaya dengan menggunakan Kereta Api dari Stasiun Bondowoso ke Stasiun Wonokromo. Pada tanggal 23 November 1947, belasan tawanan tersebut diangkut ke dalam 3 Gerbong Barang Kereta Api yang menuju ke Wonokromo. Disitu para tahanan saling sempit-sempitan didalam gerbong yang ditutup rapat dan lebih parahnya lagi ada peraturan untuk dilarang makan dan minum. Para tahanan menahan rasa dahaga ditengah teriknya matahari di siang itu. Mereka hanya mengandalkan udara segar dan meminum air kencing serta menjilat keringat supaya bertahan hidup. Peristiwa itu terjadi selama kurang lebih setengah hari sampai mereka tiba di Wonokromo. Dari kejadian ini, total ada 46 tahanan yang tewas karena dehidrasi dan kehabisan oksigen, sementara 12 lainnya mengalami luka parah akibat sesak napas dan terlalu banyak menghirup Karbondioksida. Peristiwa ini dikenal dengan Peristiwa "Gerbong Maut" yang dijadikan sebuah Monumen di Kota Bondowoso untuk memperingati Peristiwa tersebut."

Jalur KA Kalisat - Panarukan di akhir masa beroperasi
"KA Lintas Jember - Kalisat - Panarukan yang ditarik oleh Lokomotif BB 303 sedang berada di Stasiun Situbondo di tahun 2004 (masa akhir beroperasinya Jalur KA Kalisat - Panarukan). (Sumber : IKAPTK Situbondo)"

"Setelah melewati berbagai macam Peristiwa bersejarah sampai kenangan terindah yang pernah dialami di jalur ini sampai ada masanya dimana Jalur KA Kalisat - Panarukan berada di usia senja atau di masa akhir beroperasi di tahun 2004. Di masa senja tersebut, Jalur KA Kalisat - Panarukan hanya dilayani oleh KA Lintas Jember - Kalisat - Panarukan atau yah orang-orang sekitar situ menyebutnya dengan KA Lokal Blagador. Kereta ini ditarik oleh Lokomotif BB 303 dan BB 306 dengan 1 sampai 3 Gerbong Penumpang Ekonomi Non-AC dan 1 Gerbong Barang. Kereta Api ini digunakan sebagai Kereta pengumpan bagi masyarakat pelosok Situbondo dan Bondowoso yang ingin berpergian dengan Kereta Api di Stasiun Jember. Tetapi, akibat okupansi penumpang yang rendah dan kalah saing dengan moda transportasi darat lainnya seperti bus. Pada akhirnya, Jalur KA Kalisat - Panarukan yang selama 107 tahun melayani masyarakat Tapal Kuda daerah Kalisat - Bondowoso - Panarukan harus ditutup total mulai pertengahan tahun 2004. Nasibnya cukup ngenes, mengingat Jalur Kereta Api ini pernah terjadi peristiwa bersejarah yang berkaitan dengan perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia di era Agresi Militer Belanda."

Merana diambang Reaktivasi
"Bekas Sinyal Tebeng Krian yang terletak di Prajekan yang dimana bekas sinyal tersebut disimpan rapi di Museum Kereta Api Ambarawa. (Sumber : Wikipedia)"

"Pasca dinonaktifkan, bekas Jalur Kereta Api dan Stasiun banyak yang dialihfungsikan dan terbengkalai, contohnya seperti Stasiun Bondowoso yang dialihfungsikan menjadi Museum Kereta Api. Bekas lainnya adalah Sinyal Tebeng Krian yang selalu nampak di selasar Jalur Kereta Api Kalisat - Panarukan. Yang dimana, Sinyal Tebeng Krian tersebiy sudah dipindah ke Museum Kereta Api Ambarawa per Desember 2014. Pada tahun 2019, Jalur KA Kalisat - Panarukan termasuk dalam program reaktivasi Jalur Kereta Api utama bersama dengan 3 Jalur Kereta Api lainnya yang tertulis pada Perpres No. 80 tahun 2019. Hal ini tentu membawa angin segar bagi masyarakat disekitar yang pernah dilalui Jalur Kereta Api Kalisat - Panarukan. Tetapi sampai saat ini, Program Reaktivasi tersebut masih terhambat lantaran masalah biaya dan lain sebagainya. Banyak masyarakat yang sudah menanti kehadiran aktifnya Jalur KA Kalisat - Panarukan. Karena mengingat Jalur Kereta Api ini adalah Jalur Kereta Api satu-satunya yang menghubungkan wilayah Bondowoso sampai pelosok Situbondo yang ingin berpergian menggunakan Kereta Api Jarak Jauh di Jember. Akan tetapi nasib dari Jalur KA Kalisat - Panarukan sampai sekarang masih saja merana diambang reaktivasi yang belum diverifikasi."


Created by : Nalindra Wangsa J

Komentar